metode penelitian Yolis

JAWABAN SOAL

UJIAN TENGAH SEMESTER

MATA KULIAH METODE PENELITIAN

1. a. Pengertian sistematis, empiris dan terkontrol.

Sistematis          : artinya teratur menurut lanhkah-langkah yang jelas. Dengan demikian, penelitian itu tidak dilakukan sekehendak hati peneliti, melainkan sesuai dengan urutan-urutan yang telah ditentukan yaitu dari mulai perumusan masalah sampai kepada penarikan kesimpulan.

Empiris              : artinya penelitian itu harus didasarkan kepada fakta-fakta yang nyata  yang dapat diindera  serta dapat ditafsirkan. Oleh sebab itu penelitian ilmiah harus menjauhkan penjelasan-penjelasan yang bersifat metafisis, seperti pernyataan bahwa hari sabtu kliwon merupakan hari yang tidak baik untuk bepergian; bahwa orang yang mempunyai tahi lalat di tangan sebelah kanan adalah tanda orang yang licik dan sebagainya. Hal tersenut adalah penjelasan-penjelasan yang metafisiss dan tidak dapat diuji kebenarannya.

Terkontrol        : artinya dalam proses penelitian ilmiah harus menjauhkan dan menghilangkan ikut sertanya variable-variabel lain yang menjadi sebab terjadinya peristiwa-peristiwa tertentu selain variable yang dihipotesiskan. Oleh karena itu seorang peneliti harus benar-benar objektif serta mampu memisahkan variable-variabel peneltian dan variable-variabel yang bukan penelitian.

b. Sejarah lahirnya metode ilmiah

Metode ilmiah merupakan suatu cara untuk memecahkan masalah dan mendapatkan kebenaran atau kesimpulan. Metode ilmiah lahir dan dikembangkan oleh John Dewey (1910) dengan nama Scientific Methode.

Metode ilmiah pada dasarnya  berpijak pada metode deduktif/induktif yang dikembangkan Charles Darwin pada abad 19. Metode Deduktif Induktif sendiri lahir asimilasi metode berfikir deduktif yang dikembangkan oleh Aristoteles dan metode berfikir induktif dikembangkan oleh Francis bacon.

Metode berfikir deduktif yang dikembangkan oleh Aristoteles, menggunakan pendekatan pilogisme yang berdasarkan kekuatan nalar atau berfikir logis. Metode ini berusaha menganalisa gejala dari keadaan yang bersifat umum (Premis Major) menuju pada kesimpulan khusus yang berhubungan logisme, dijembatani oleh proposisi yang dinamakan premis minor.

Sedangkan pendekatan induktif yang dikembangkan Francis Bacon, merupakan kebalikan dari hasil berfikir Aristoteles. Metode berpikir induktif  yang dikembangkannya tidak menarik kesimpulan dari yang umum menuju yang khusus, akan tetapi dari yang khusus menuju kepada yang umum.

Metode ilmiah merupakan langkah-langkah yang sistematis untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan pekerjaan atau profesi, sehingga dalam pelaksanaaan tidak begitu menuntut formal. Metode ilmiah sebagai prosedur pengembangan ilmu mempunyai criteria sebagai berikut:

  1. Berdasarkan fakta
  2. Bebas dari prasangka atau bias
  3. Menggunakan prinsip-prinsip analisis
  4. Menggunakan hipotesis
  5. Menggunakan ukuran objektif
  6. Menggunakan tehnik kuantifikasi

Berdasarkan perkembangannya dari masa ke masa, dapat disimpulkan metode ilmiah adalah prosedur pengembangan ilmu yang terdiri dari 3 tahapan pokok, yaitu:

  1. Masalah dan perumusan
  2. Rasionalisasi atau logico; ada preposisis deduktif yang didasarkan pada logika, asumsi, postulat atau teori dan diakhiri oleh hipotesis
  3. Pembuktian empiric atau verifikasi (pada sains positivistic gunakan statistic)

2. Contoh Proposal Pengajuan Penelitian

Judul:

PELAKSANAAN PENDIDIKAN ISLAM DI LINGKUNGAN KELUARGA MUSLIM DALAM UPAYA MENINGKATKAN BELAJAR MANDIRI SISWA DI SMP Swadaya PAGARSIH BANDUNG

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan berintikan interaksi antara pendidik dengan peserta didik dalam upaya membantu peserta didik menguasai tujuan-tujuan pendidikan. Interaksi pendidikan dapat berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah ataupun masyarakat. Dalam lingkungan keluarga interaksi pendidikan terjadi pada orang tua sebagai pendidik dan anak sebagai peserta didik. Interaksi ini berjalan tanpa rencana tertulis. Interaksi pendidikan antara orang tua dengan anaknya juga sering tidak disadari. Dalam kehidupan keluarga interaksi pendidikan dapat terjadi setiap saat, setiap kali orang tua bertemu, berdialog, bergaul dan bekerja sama dengan anak-anaknya. Pada saat demikian banyak perilaku dan perlakuan spontan yang diberikan orang tua kepada anak. Maka pendidikan dalam lingkungan keluarga disebut pendidikan informal.

Menyadari tantangan yang dihadapi pada abad sekarang dan abad mendatang, pemerintah pula telah melakukan aneka ragam program nasional guna menghadapi tantangan tersebut. Maka dari itu penulis berusaha bukan hanya mencita-citakan saja, akan tetapi dibutuhkan suatu kemampuan pembentukan jiwa dan sikap hidup manusia yang dimulai sejak usia dini hingga dewasa, sehingga diharapkan diwaktu-waktu yang akan datang kita mempunyai anak bangsa yang berpendidikan dan terpelajar, memiliki ketahanan ideologis, kekuatan aqidah, kemampuan ilmiah serta mampu beranjak yang asalnya dari bangsa penerima jasa menjadi bangasa pencipta karya atau entrepreneur.

Dalam hal ini yang paling mendukung sekali guna tercapainya harapan tersebut di atas. Penulis menilai bahwa pendidikan dalam keluargalah yang paling menentukan, terutama sekali sikap orang tuanya. Yang tepatnya pada waktu sedang pembuahan dan ibu yang akan pertama kali memberi warna dasar kepada sikap hidup anaknya yang selanjutnya pendidikan pada masa anak-anak mempertebal warna dasar dan warna pondasi pendidikan. Dan apa saja yang pernah diterima anak didik dimasa usia dini akan terus dimilikinya sampai masa tua.

Bahwa tujuan pendidikan nasional berdasarkan pancasila yaitu untuk meningkatkan kualitas manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani.

Kemudian Pendidikan nasional juga bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan seutuhnya, yaitu menusia beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian yang mantap dan memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Dua hal yang menjadi perhatian dalam pendidikan adalah ilmu dan tingkah laku, serta peran orang tua dalam mendidik anaknya dilingkungan keluarga. Dalam Al-qur’an Surat At-Tahrim ayat 6 Allah SWT berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah keluargamu dari siksa api         neraka” (Depag RI, 1997: 951).

Pembinaan sangat penting terutama dalam pembentukan pribadi, akhlak dan agama pada umumnya karena pembiasaan-pembiasaan itu akan memasukan unsur-unsur positif dalam pribadi anak yang sedang tumbuh. Semakin banyak pengalaman agama yang didapatinya melalui pembiasaan itu, akan semakin mudahlah ia memahami ajaran agama yang akan di jelaskan oleh guru agama di kemudian hari.

Disini yang penulis maksudkan pendidikan keluargalah yang pertama kali bisa mewarnai pribadi seseorang yang benar-benar memiliki rasa disiplin yang tinggi sehingga dengan demikian penulis menggaris bawahi, bahwa dalam pendidikan keluargalah  yang memegang peranan utama dalam meningkatkan mutu kedisiplinan serta harkat dan martabat manusia.

Maka dari itu keluarga atau orang tua merupakan orang yang sangat penting di dalam pendidikan dan sangat berpengaruh, sehingga diharapkan sadar dan bertanggung jawab sebagai motivator dalam menanamkan sikap kedisiplinan serta menjadi figur dalam berakhlakulkarimah dalam membentuk anak-anaknya yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, serta mampu menentukan kepribadian guru sebagai berikut “Kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik, Pembina baik bagi anak didiknya, ataukah menjadi perusak dan penghancur bagi kepribadian anak” (Arifin Med. 1977: 16).

Begitu pulalah dalam pendidikan dalam keluarga merupakan bagian dari luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga dan memberikan keyakinan agama dan nilai budaya, nilai moral dan keterampilan.

Dengan demikian dari hal tersebut di atas, untuk lebih jelasnya lagi bahwa baik buruknya tingkah laku seseorang tersebut banyak bergantung pada pendidikan orang tua yang dihayatinya sejak kecil.

Peran orang tua sangat penting serta besar dan menentukan pembentukan bakat dan kemampuan anak didik maka dari itu sangat jelas sekali orang tua mempunyai kekuasaan pendidikan dan kekuasaan keluarga. Adapun kekuasaan tersebut sebagai mana yang penulis kutip dalam bukunya Hubungan Timbal Balik Antara Lingkungan Sekolah Dan Keluarga sebagai berikut:

  1. Kekuasaan pendidikan, dipergunakan untuk memelihara anak atau pembimbingnya, sebagai anak menjadi manusia dewasa yang self standing dan memiliki  rasa tanggung jawab.
  2. Kekuasaan keluarga ayah dan ibu sebagai orang tua bertanggung jawab atas keselamatan keluarganya. Jadi keluarga tidak hanya sebagai persekutuan hidup antara orang tua dan anak, tetapi juga menjadi arena dimana anak mendapatkan pendidikan baik jasmani maupun rohaninya. (Arifin Med, 1977: 67, 84).

Dalam hal ini orang tua berarti melaksanakan sebagian tugas dari pemerintah untuk mewujudkan pendidikan yang dimana pendidikannya merupakan upaya yang dilakukan untuk memajukan perkembangan manusia dan kebudayaan. Pendidikan berubah dan berkembangnya  sesuai dengan kemajuan jaman. Artinya semakin majunya kebudayaan manusia, semakin sistematis dan terarahnya pendidikan yang dilaksanakan, baik secara formal maupun informal jadi jelas sekali orang tua dalam melakukan usaha pembinaan disiplin anak dapat memberikan pengetahuan, pengertian dan sebagainya kepada anak, khususnya mengenai materi dalam pendidikan sekolah.

Dengan melalui pendidikan, sekolah merupakan suatu kegiatan belajar mengajar dari suatu lembaga pendidikan dengan berbagai sistem yang melibatkan barbagai komponen, sarana dan prasarana serta berbagai cara atau metode penyampaian pendidik untuk mengajarkan ilmunya kepada orang lain. Islam mewajibkan umatnya belajar dan mengajar.

Dengan demikian untuk merealisasikan dan melihat statemen tersebut penulis merasa tertarik untuk memilih judul “PELAKSANAAN PENDIDIKAN ISLAM DILINGKUNGAN KELUARGA MUSLIM DALAM UPAYA MENINGKATKAN BELAJAR MANDIRI SISWA DI SMP Swadaya PAGARSIH BANDUNG”.

B.  Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan yang akan penulis teliti secara deskriptif tersebut di atas ternyata masih ada kendala-kendala baik internal maupun eksternal, oleh sebab itu dalam rumusan penelitian sebagai berikut:

  1. Bagaimana pelaksanaan pendidikan Islam dilingkungan keluarga muslim siswa di SMP Swadaya Pagarsih Bandung?
  2. Bagaimana upaya meningkatkan disiplin belajar mandiri siswa di SMP Swadaya Pagarsih Bandung?
  3. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi dalam pelaksanaan pendidikan Islam di SMP Swadaya Pagarsih Bandung?

Pertanyaan-pertanyaan itu dimaksudkan untuk membatasi permasalahan atau pembahasan yang tidak terarah. Dan dimaksudkan pula supaya menjadi pusat perhatian dalam melakukan langkah-langkah penelitian ini sebagai upaya pemecahannya.

C.  Tujuan Penelitian

Hubungan adalah suatu yang ada kaitannya dengan obyek yang lainnya, dan adanya timbal balik, akan tetapi bukan merupakan penyebab. Berdasarkan rumusan di atas, maka tujuan penelitian yang akan penulis ajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan pendidikan Islam di lingkungan keluarga muslim siswa di SMP Swadaya Pagarsih Bandung.
  2. Untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan meningkatkan disiplin belajar mandiri siswa di SMP Swadaya Pagarsih Bandung.
  3. Untuk mengetahui sejauh mana faktor-faktor apa yang mempengaruhi dalam pelaksanaan pendidikan Islam di SMP Swadaya Pagarsih Bandung.

D.  Kerangka Pemikiran

Dalam kerangka pemikiran ini penulis akan mengajukan dua permasalahan yaitu hubungan “Pendidikan di lingkungan keluarga muslim” dan “Upaya meningkatkan belajar mandiri siswa di SMP Swadaya Pagarsih Bandung”.

“Pendidikan adalah upaya sengaja oleh manusia (dengan tujuan) mempengaruhi manusia (termasuk dirinya) di dalam perkembangannya” (A. Adurrahman, 1995: 67).

“Keluarga adalah dua atau lebih orang yang tinggal bersama dan terikat karena darah, perkawinan dan adopsi” (A. Abdurrahman, 1995: 112)

Kedisiplinan adalah ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan tata tertib dan sebagainya. Dan belajar adalah usaha murid dalam mengubah situasi perkembangan dirinya sendiri dalam bidang material, formil serta fungsional pada bidang intelek khususnya. Singkatnya belajar adalah berusaha mengadakan perubahan situasi dalam proses perkembangan dirinya mencapai tujuan.

Secara sedeharna kerangka pemikiran tersebut di atas dapat dilihat dalam bentuk skema di bawah ini:

PENDIDIKAN

KELUARGA

USAHA

USAHA

PENINGKATAN

DISIPLIN


E. Instrumen Penelitian (Metode dan Teknik Penelitian)

Adapun metode atau langkah-langkah penelitian ini, penulis menentukan beberapa cara, yaitu sebagi berikut:

  1. Menentukan Lokasi Penelitian.

Lokasi yang akan penulis teliti adalah SMP Swadaya Pagarsih Bandung.

  1. Metode Penelitian.

Metode penelitian yang akan digunakan dalam langkah penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu penyelidikan yang tertuju pada pemecahan masalah  yang ada pada masa sekarang (Winarno Surachmad. 1985:139).

Penulis maksudkan adalah untuk melukiskan atau menggambarkan hasil pemecahan masalah mengenai berbagai macam kesulitan, khususnya mengenai hal-hal yang tertuju pada waktu sekarang.

Metode deskriptif adalah metode yang menginterpretasikan dan berusaha untuk menemukan fakta yang nyata.

Berdasarkan hal tersebut di atas penulis menyimpulkan sebagai berikut:

  1. Hasil yang akan diteliti ini hanya berlaku kepada populasi dimana penulis mengadakan penelitian, atau tidak bersifat umum (general).
  2. Hasil dari penelitian ini hanya berpusat pada problem yang berlangsung (factual)

Untuk mencari pemecahannya. Hasil dari penelitian menggambarkan jalan keluar sebagaimana adanya. Dengan demikian dari hasil penelitian tidak mengandung nilai-nilai prediktif (Winarno Surachmad. 1985: 218)

3. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. a. Observasi

Observasi adalah suatu cara untuk mengadakan pengamatan secara langsung dan sistematis (Wayan Nurkancana, 1983: 46).

Alasan menggunakan observasi yang akan diteliti ini khususnya mengenai asfek-asfek permasalahan pada judul di atas, karena diyakini peristiwa-peristiwa di atas lebih proporsional untuk diamati. Data yang diharapkan terkumpul melalui teknik observasi ini meliputi kegiatan belajar-mengajar yang sedang berlangsung di SMP Swadaya Pagarsih Bandung.

Dengan menggunakan metode ini diharapkan akan terjadi suatu komunikasi secara langsung, hadir secara fisik dalam bentuk tanya jawab, yang akhirnya akan memperoleh data mengenai usaha peningkatan disiplin belajar siswa di SMP Swadaya Pagarsih Bandung.

b.   Angket

Angket adalah daftar pertanyaan yang disusun untuk menyelidiki suatu gejala. Angket juga digunakan secara teknis untuk mengumpulkan data dalam penelitian. Secara teknis penulis mempergunakan pertanyaan secara tertulis yang di ajukan kepada responden.

Tujuan angket ini sebagai pengumpulan data yang tidak diperoleh dengan observasi dan wawancara.

E.  Populasi dan Sampel Penelitian

1. Subjek Penelitian

Yang menjadi subjek penelitian ini adalah peserta didik SMP Swadaya Pagarsih Bandung yang berjumlah kurang lebih 80 (delapan puluh) anak yang dianggap akan mewakili dalam penelitian tersebut.

2. Menentukan Rumus Pengolahan

Dalam penelitian ini penulis menentukan rumus pengolahan dan analisa data, karena penelitian ini melibatkan dua variabel yaitu “Pendidikan dilingkungan keluaga muslim” sebagai variabel X  dan “Upaya meningkatkan belajar mandiri siswa” sebagai variabel Y. (Sujanas, 1982: 27) rumus yang digunakan untuk mengetahui data hasil angket, maka penulis olah ke dalam bentuk tabulasi. Yakni pengolahannya menggunakan prosentase (%). Kemudian ditarik kesimpulan dari tiap-tiap alternativ jawaban dari tiap item, dengan menggunakan rumus sebagai berikut:


f

x 100

n

Keterangan:

F      = Jumlah orang yang menjawab dari alternativ jawaban.

N     = Jumlah responden.

100  = Bilangan yang ditentukan dalam prosentase.

Untuk lebih jelasnya, penulis akan menggunakan pedoman perhitungan sebagi berikut:

0  % – ……..  = tidak ada seorangpun.

1  % – 24%     = sebagian terkecil.

25 % – 49%    = sebagian kecil.

50 % –            = setengahnya.

51 % – 74%    = sebagian besar.

75 % – 95%    = sebagian besar

100% –           = seluruhnya.

SEDANG BELAJAR BIKIN BLOG

Pertama saya bikin blog sangat bingung karena beberapa masalah :
1. Saya hanya memakai Modem paket Smart Haier D1200P yang gretongan Quota 2 Gb/Bln selama 6 Bln Total 12 GB.. sangat lambat sekali….. (Kacian dech..!!!)
2. Cari informasi tentang Smart Haier D1200P ternyata hanya sedikit saja perubahannya. (Dirubah di regedit, Pakek wajan dan setting mozila firefox..???)
3. Rasa ingin tahu saya belaja bikin blog jadi terhambat lamabat kadang terputus-putus
4. Lokasi saya di Bandung Jl. Pagarsih Barat Kel. Babakan. Kec. Babakan Ciparay
5. Kondisi sinyal kadang bagus kadang nggak..
6. Nasiiiib….
Tapi saya tetap ingin belajar..!!! Maju terus pantang mundur… menguji kesabaran…??? Buang-buang waktu???

Keimanan Sebagai Sumber Rasa Aman

“Orang-orang yang beriman dan keadaan mereka tidak mengotori
keimanannya dengan perbuatan jahat, mereka itulah orang yang
mendapat rasa aman, mereka adalah orang-orang yang akan
mendapat hidayah”. (al An’am : 82).

asa aman adalah mahkota kebahagiaan, laksana mahkota kesehatan yang terpasang di atas kepala orang yang sehat, tetapi yang dapat melihatnya adalah orang-orang yang sakit saja.
Seorang guru yang berpenghasilan rendah atau pas-pasan saja tetapi disegani oleh orang tua murid dan disayangi oleh para muridnya, pastilah mendapat rasa aman di tengah-tengah masyarakat, ketimbang seorang pejabat tinggi yang menjadi sorotan masyarakat karena tingkah lakunya yang menusuk perasaan orang banyak. Maka harta dan pangkat yang disandangnya tidak berdaya membantunya untuk memperoleh suatu ruang yang teduh dalam hidupnya dan memberikan rasa aman bersama kekayaan material yang digenggamnya. Seorang petani kecil yang bersimbah peluh menggarap tanahnya di tempat yang terpencil merasa dirinya aman menikmati hasil keringatnya yang halal itu meskipun sedikit, karena tidak ada orang yang berselera mempergunjingkannya atau mengincar kekayaannya yang hanya tak seberapa itu. Lain halnya dengan apa yang dialami oleh hartawan yang dikenal karena angkuhnya atau karena cara-cara kotor yang dipergunakannya untuk menimbun kekayaan yang disembahnya sebagai tuhan yang kedua.
Ini tidak berarti bahwa kita kampanye menganjurkan hidup miskin atau pas-pasan saja. Contoh-contoh di atas ditampilkan hanyalah sekedar pengungkapan dalam bentuk yang ekstrim tentang persepsi yang keliru berkenaan dengan hakikat rasa aman dan sumbernya. Yang pasti adalah bahwa rasa aman itu bukanlah monopoli kelompok elit yang berkuasa atau berharta, bahkan, kalau salah urus, kedudukan sebagai elit yang cemerlang itu bisa berbalik menjadi bencana. Para penyair yang berjiwa halus pernah berkata, “Tidak semua yang bergemerlapan itu emas”.
Kalau sudah dapat diterima bahwa kekayaan dan kedudukan tinggi itu tidaklah menjadi jaminan bagi terbitnya rasa aman, dan bahwa rasa aman itu dapat juga diperoleh oleh orang yang biasa-biasa saja, maka persoalan sekarang adalah, di manakah gerangan bersemayamnya rasa aman itu, dan apa pula anak kunci yang dapat dipakai untuk memasukinya?
Pada hakikatnya, rasa aman itu bersemayam di dalam kalbu manusia. Kalbu itulah yang memegang peranan sentral dari seluruh perasaan, seluruh kemauan dan seluruh daya penalaran. Al Quran menyebutnya “Qalbun” dengan jama “Qulub” dalam pelbagai ayatnya. Adapun yang menjadi kuncinya adalah “Iman” yang sekaligus menguasai dan memimpin getaran yang terbit dari kalbu itu. Ayat Al Quran yang dipetik pada pangkal tulisan ini memberikan jaminan bagi orang yang beriman untuk mendapat rasa aman yang didambakannya dengan satu syarat, yaitu tidak mencampuri atau menodai iman dengan perbuatan jahat. Iman kepada Allah dengan system kepercayaannya yang dikenal dengan “Arkanul Iman” memberikan kepastian tentang amal hidup yang benar, lalu memberikan petunjuk kepada setiap insan yang beriman itu tentang bagaimana caranya hidup diisi secara terperinci. Karena petunjuk itu datangnya dari Allah, maka dia menjadi yakin, ‘ainul yaqien, tentang kebenarannya.
Sebagai isyarat bahwa iman itu memberi rasa aman dalam hidup ini, dapatlah dicatat bahwa kata-kata iman dan aman itu berasal dari satu akar kata. Ini memberikan petunjuk bahwa di mana iman berakar, di situ rasa aman menjelma. Dengan penghayatan iman itu sebagaimana mestinya, seorang mukmin tidak akan ragu seujung rambut pun bahwa semua perkara pada akhirnya akan dipulangkan kepada Allah jua. Maka selama dia berbuat sesuai dengan ketetapan Allah yang dikenakan kepadanya, selama itu pula dia akan merasa aman. Memang, kadang-kadang dia menemukan kerikil tajam dalam hidupnya karena setia mentaati pola hidup yang relevan dengan ketentuan iman itu. Itu akan dianggapnya wajar saja. Namanya saja hidup di dunia yang penuh hambatan dan tantangan, aksi dan reaksi. Kenyataan ini akan ditemui juga oleh orang yang menolak iman itu. Bedanya hanyalah satu, selagi penjahat merasa was-was dan gelisah kalau melihat polisi selaku aparat keamanan mendekatinya, maka seorang mukmin akan tetap tinggal tenang, karena yakin bahwa dia tidak mempunyai persoalan apa-apa dengan polisi. Seperti itulah gambarannya.
Dan kalaupun dia diseret juga, dia tidak akan panik, karena yakin bahwa pada akhirnya kebenarannya jugalah yang berbicara dan keadilan akan berjalan dengan kedua belah kakinya. Dengan hati yang mantap dia akan hadapi semua persoalan seraya berpegang teguh pada petunjuk Ilahi yang menegaskan, “Katakanlah, kami tidak akan ditimpa apapun juga kecuali menurut keputusan Allah sendiri mengenai diri kami; Dialah pelindung kami dan kepada-Nyalah seharusnya orang-orang mukmin itu berserah diri”. (At Taubah : 51).
Ayat yang kita kutip diatas dikunci dengan suatu janji Allah, yaitu akan memberi hidayah kepada setiap mukmin yang bersih dari noda kejahatan sebagai ganjaran tambahan atas gaya hidup suci yang di tempuhnya. Semoga kita diberi kekuatan untuk mengamalkannya.

Sedikit Tertawa Banyak Menangis

“Apabila dibacakan atas mereka ayat-ayat Allah Yang Maha Pengasih,
mereka pun tersungkur bersujud, seraya menangis..”
(Maryam: 58).

edikit atau banyak, namun jelas tangis dan air mata mengambil sesudut tempat dalam kehidupan anak manusia. Hambar rasanya makna hidup ini, ketika ia hanya diramaikan dan direbutkan oleh senyuman dan ketawa yang berderai-derai saja, tanpa diselingi oleh tangis dan air mata. Sebab itu kata orang, “Dunia ini adalah himpunan ketawa dan tangis atau senyuman dan air mata”. Maka janganlah selalu ketawa, tapi juga janganlah berkepanjangan sedih. Ketawa diartikan sebagai gejolak kegembiraan dan keriangan yang mudah sekali menenggelamkan orang ke dalam lautan keriaan dan kesombongan yang akan menghanyutkannya ke tengah laut lupa diri. Sedang tangis dimaknakan sebagai gejolak kesedihan dan kepiluan, yang biasanya membawa seorang kepada ingat diri yang bakal menyadarkan hati. Oleh sebab itulah orang sering memperingatkan agar jangan terlalu banyak ketawa, seperti yang dinyatakan Nabi s.a.w. “Janganlah banyak ketawa, sebab banyak ketawa itu dapat mematikan hati”.(al Hadits).
Allah Swt pun pernah memperingatkan kaum Munafiqien yang telah dirongrong kegembiraan hati sedemikian rupa, agar mereka mempersedikit ketawa dan sebaliknya memperbanyak tangis.Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Alangkah gembiranya orang-orang yang tak turut perang itu pada tempat duduk mereka di belakang Rasulullah. Mereka benci sekali berjihad dengan harta dan jiwa mereka fisabilillah dan mereka malah menganjurkan, ‘janganlah bertempur dalam panas terik!’ Tapi katakanlah: Api neraka jahanam lebih sangat panas lagi, andai mereka mengerti. Sebab itu hendaklah mereka sedikit ketawa dan hendaklah mereka banyak menangis, sebagai balasan dengan apa yang mereka lakukan”{At-taubah: 81-82}.
Seperti dibayangkan di atas, seorang muslim tidaklah dilarang ketawa, asal ketawanya itu tak sampai melupakannya akan dirinya, hingga ia menjadi riya dan sombong, lupa daratan. Sebab itu dianjurkan agar ia memperbanyak tangis, untuk menyadari kekecilan dan kelemahan dirinya di hadapan ke-Maha Besaran dan ke-Perkasaan Allah, Khaliqnya, pemberinya hidup dan rezeki. Sebab tangis dan air mata yang dicucurkannya karena itu, sungguh banyak sekali kebaikan dan keuntungannya bagi diri pribadinya dalam kehidupan ini. Marilah kita dalami filsafat yang terkandung dalam surat Maryam ayat 58 yang dikutip di awal karangan ini. Ia adalah ciri-ciri pada hamba-Nya yang telah diberi-Nya nikmat, diantara nabi-nabi dan rasul-rasul, juga ciri setiap muslim sejati.
Ciri tersebut ialah : “Bila ayat-ayat Allah Yang Maha Pengasih dibacakan atas mereka, tentu mereka tersungkur sujud, lalu menangis meneteskan air mata”.
Selintas pandang memperhatikan susunan kata “tersungkur sujud” belumlah cukup di saat seorang muslim mendengar bacaan ayat-ayat Allah, dengan melakukan sujud belaka, tapi sujud itu harus disertai tangis dan air mata, bahkan apabila dipertimbangkan “tata bahasa Arab”, huruf wa-u yang mendahului kalimat “bukiya” dalam ayat itu adalah huruf athaf untuk jama’ keserangkaian kejadian, bahwa tindakan sujud yang lahir dari mendengar ayat-ayat itu harus disertai dengan “baka’a” (tangisan). Maka tersungkurlah ia seraya menangis.
Sujud adalah suatu gerak keterharuan, tetapi apabila gerak tersebut diiringi dan disertai tangisan dan tetesan air mata, maka keterharuan itu akan lebih mendalam, kehusyukan orang yang melakukannya lebih menonjol dan menggambarkan sifat kepribadian. Ayat-ayat Allah sungguh banyak sekali yang patut dan wajar membuat kita terharu, baik yang tersebut dalam AlQur’an, maupun yang tertulis dalam kitab besarnya, alam ini, kitab dirinya sendiri ataupun kitab peristiwa-peristiwa suka-duka kehidupan sehari-hari. Sekian banyaknya ayat-ayat tersebut yang seharusnya mengharukan hati, yang membuat hati semakin takut kepada Allah Swt. Siapakah sebenarnya yang tak akan terharu menangis lalu gentar ketakutan, bila ia umpamanya mendengar atau membaca sendiri kalam Allah yang mengatakan, “Wahai anak manusia, takutlah kamu akan Allah! sebab goncangan gempa hari kiamat nanti adalah sesuatu yang teramat dahsyat sekali. Di hari itu kamu akan melihat ibu yang lagi menyusui anaknya pingsan tak sadarkan diri dan wanita yang sedang hamil akan melahirkan kandungannya. Dan engkau lihat orang-orang pada mabuk sempoyongan, padahal mereka bukan mabuk minuman keras, tetapi karena dahsyatnya azab Allah….”. (Al-Haj : 1-2).
Dan siapa pula kalau mengerti, yang tak akan terharu dan tak akan meneteskan air mata, gemetar akan murka Illahi yang akan dihadapinya, kalau ia mendengar atau membaca wahyu, ”Wahai anak manusia, takutlah kamu akan Allah dan hendaklah setiap diri memandang, apakah yang ia buat untuk hari esoknya……”. (Al-Hasyr: 18).
Demikianlah banyak lagi ayat-ayat Allah dalam Al Qur’an yang harusnya menjadikan kita terharu, lalu tersungkur sujud, menangis, mengucurkan air mata. Air mata yang keluar karena keterharuan akan ayat-ayat Ar rahman di atas, yang lahir oleh ketakutan kepada Allah Swt dengan penuh khusu’ dan ikhlas di samping tugas-tugas ubudiyah dan amaliyah hidup seorang muslim, akan banyak gunanya kelak setelah ia hidup di alam Barzakh, semasih di alam kubur, seterusnya dikala akan menghadapi hari kiamat.
Mudah-mudahan kita semua tergolong hamba Allah yang lebih banyak menangis ketimbang ketawa karena takut akan adzab Allah. Dengan demikian, kita tidak akan terlena dan terhanyut dalam gemerlap kehidupan duniawi yang fana ini, sehingga melupakan kehidupan yang hakiki yakni kehidupan setelah kita mati.

Buletin Senat

Mengapa tersesat..!!!

Apa yang terfikirkan dan dilihat seolah bentuk yang nyata , namun semuanya semu.  Itulah cara setan yang terkutuk menipu manusia dan jin agar menjadi teman atau pengikutnya hingga akhir zaman tapi setelah itu setan tidak bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukannya.. “bersambung..”

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.